Selasa, 10 Maret 2009

REFLEKSI MAULID MUHAMMAD SAW


senin, 09 maret 2009, bertepatan dengan tanggal 12 rabi`ul awwal 1430 hijriyah, tanggal dan bulan tidak akan pernah kita lupakan sebagai seorang muslim karena tanggal dan hari itu adalah kelahiran seorang manusia suci yang mengembang suatu tugas membebaskan manusia dari segala bentuk penyembahan selain hanya kepada Allah Azza Wa jalla.

Dialah rasulullah Muhammad SAW, yang dalam sebuah syair dalam kitab Al-barzanji dikatakan bahwa :
“ انت شمس انت بدر انت نور فوق نور.

“Engkau adalah matahari dan bulan purnama, engkau adalah cahaya diatas cahaya”
طلع البدر علينا

“Telah Nampak bulan purnama atas kami”

Dengan risalah islam yang dibawanya mampu menerangi setiap sudut-sudut gelap dan kelam dalam kehidupan dan peradaban manusia.
dan hanya dengan risalah (Al-qur`an dan sunnah) itu pula yang dijadikan generasi-generasi setelahnya untuk membangun peradabannya.

Islam diperkenalkan oleh Muhammad Saw di Mekkah dengan prioritas merevolusi akidah atau keyakinan masyarakat “jahiliah” mekkah waktu itu. setelah sekitar 13 tahun di mekkah, pastinya dengan tantangan yang sangat berat dari petua-petua suku dan sekutu-sekutunya, beliau pun hijrah ke tasrib yang juga dikenal sebagai madinah, disinilah berawal sebuah peradaban baru Islam.

Rasulullah di madinah, dengan berasaskan pada wahyu yang diturunkan kepadanya menjalankan segala aktifitas kehidupan masyarakatnya, utamanya di bidang politik atau pengaturan urusan-urusan masyarakat dalam bidang ekonomi, sosial budaya pendidikan dan militer.

Dengan islam sebagai dasar pengaturan masyarakat Rasulullah sudah mencontohkan berbagai keberhasilan, kesejahteraan yang merata diseluruh penjuru, kesehatan yang terjamin, dan penaklukan-penaklukan yang terus diperluas.

Madinah memang patut dianggap sebagai negara modern pertama yang paling “demokratis” di permukaan bumi ini sebagaimana klaim seorang pakar, persamaan hak laki-laki dan perempuan, persamaan hak islam dan non muslim sudah betul-betul dirinci oleh rasulullah saw sebagai pemimpin di madinah, karena islam memang sudah memberikan hak penuh pada manusia dalam hal: harta, akal, keturunan, dan agama.

sepeninggal rasulullah SAW, yang kemudian dilanjutkan oleh para sahabatnya, para tabi`in dan tabi`i tabi`in tetap menjadikan Al-Qur`an dan Sunnah sebagai pandangan hidup bukan saja spiritually tapi juga hal-hal yang berhubungan dengan urusan-urusan keduniawian atau pengaturan akan kehidupan.

cahaya islam terus menyebar dan selama 13 abad penaklukan-penaklukan terus dilakukan ke berbagai wilayah, sehingga islam kala itu tersebar melintas- berbagai benua, berawal dari asia, ke afrika sampai ke Eropa. percikan cahaya islam di eropa ini menginspirasi bangkitnya sebuah zaman baru di eropa dari Darkages (zaman kegelapan) ke Renaissance (pencerahan).

saat awal-awal bangkitnya eropa pasca renaissance islam mengalami kemunduran, apalagi ketika sudah bersentuhan dengan budaya-budaya barat yang sekuler. Islam juga sudah mulai mengadopsi berbagai pemikiran barat, dari sinilah dominasi dimulai dan akhirnya tahun 1924 pasca perang dunia I kekuasaan islam yang dipegang oleh kerajaan turki utsmani hancur dan wilayah kekuasaannya di bagi-bagi oleh penjajah inggris dan perancis.

begitulah sampai sekarang Islam masih tetap terpuruk setelah gemilang selama berabad-abad, dengan dibatasi sekat-sekat nasionalisme saudara-saudara seislam yang dibantai dan di tindas suatu negara tidak bisa ditolong oleh saudar-saudaranya di negara lain. tidak lain karena sekat-sekat itu yang membatasinya. lihatlah saja palestina, irak, Pakistan, afganistan, pemerintah negara-negara muslim tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan pembantaian yang terjadi di depan mata.
Cuma pidato yang bisa dilakukan, ya Cuma pengiriman bantuan sembako, dan obat-obatan. padahal masalahnya disana adalah kehancuran atas kemanusiaan, kehancuran atas nasib umat islam.

momen mauled rasulullah saw 12 hijriyah ini menjadi ajang di mana kita sebagai muslim harus introspeksi diri dan merapatkan barisan dalam perjuangan untuk membangkitkan kembali cahaya islam dengan obor khilafah islamiyah yang akan membawa sinar kemuliaan islam ke seluruh jagad raya ini.
semua mahluk pasti akan menyambutnya………

Leia Mais…

Jumat, 06 Maret 2009

Sengketa Kassi-Kassi


Kamis (5/3 /09) koalisi masyarakat sul-sel untuk kassi-kassi mengadakan aksi demonstrasi di anjungan pantai losari.

Demostrasi ini membawa isu tentang perlawanan masyarakat kelurahan kassi-kassi atas klaim seorang pengusah ,Rizal Tandiawan (pemilik PT.Sinar Galesong Pratama) bahwa tanah yang ditempati masyarakat kassi-kassi sekarang adalah tanah milik rizal yang dibelinya melalui lelang pada kantor lelang ujung pandang tanggal 14 maret 1996 yang sebelumnya dimiliki oleh Andi Nurhani Sulolipu.

Akan tetapi klaim itu dibantah oleh masyarakat kassi-kassi, warga mempunyai cerita bahwa sekitar tahun 90-an ketika warga miskin menguasai tanah di kassi-kassi,awalnya hanya masih berupa rawah-rawah. Akan tetapi dengan kerjasama diantara mereka, mereka terus menimbun wilayah itu sehingga layak untuk dihuni.

Tanah yang ada di kassi-kassi dibeli dari Andi Muda Daeng Serang (alm) melalui dua orang kuasanya yang msing-masing bernama Petta Indare dan s. Daeng tarring yang dibuktikan dengan perjanjian jual beli dan kwitansi pembayaran. Dan setelah setelah andi muda daeng serang meninggal pada than 1998 maka perjanjian jual beli itu diperkuat dengan akta notaris, antara ahli waris almarhum yang diwakili oleh Andi Usman Dg Sila bersama Andi Makkaraeng serang dengan masing-masing warga.

sengketa tanah antara oknum pengusaha Rizal Tandiawan sebagai penggugat dan warga masyarakat yang berdomisili di jl.beringin I, kelurahan kassi-kassi kecamatan rappocini, Makassar sebagai tergugat terus berlanjut sampai sekarang.
Daeng Musu`, warga kassi-kassi, ketika dimintai keterangannya setelah aksi demonstrasi mengatakan bahwa sebenarnya masyarakat kassi-kassi sudah memenangkan perkara sengketa tanah ini, baik di pengadilan negeri Makassar maupun di pengadilan tinggi Makassar, akan tetapi rizal tidak puas dan terus membawa kasus ini ke mahkamah agung.

aksi demonstasi di anjungan pantai losari ditutup dengan pernyataan sikap oleh daeng musu` yang juga sebagai kordinator aksi.

Leia Mais…

Membaca Gadis Pantai


Kepiawaian tangan Pramudye ananta toer dalam menuliskan cerita yang dia beri judul “Gadis Pantai” memang membuat setiap orang takjub dan terkesima, saya pun mengangkat topi sebagai apresiasi atas kehebatannya dalam mentransfromasikan fikirannya dan imajinasinya kepada semua pembaca.

Sebuah alur cerita yang berlatar zaman kolonialisme di Indonesi, dengan narasi yang sangat kuat menjadikan setiap pembacanya pasti akan tenggelam dan merasakan betapa menderitanya manusia-manusia Indonesia yang hidup zaman kolonial. masyarakat diperlakukan sesuai kasta dan kelas sosialnya. dan pastilah kelas masyarakat miskin yang tertindas, tersisihkan, termarjinalkan. inilah yang digambarkan oleh pram dalam bukunya :

Adalah seorang gadis pantai yang lahir dan besar di pinggiran pantai, sebuah daerah terpencil dari kota, sehari-harinya dengan bertelanjang kaki bermain dan bercanda dengan kawan-kawannya menikmati suasana hidup di pantai. Walaupun penghasilan orang tuanya hanyalah bergantung dari hasil-hasil laut, rumah kecil yang tidak punya bilik kamar, tetapi kehidupannya cukup bahagia.

Si gadis pantai berumur 14 tahun waktu itu ketika datang lamaran seorang bangsawan dari kota. Gadis pantai pun dipinangnya , tapi pernikahan itu beda dengan pernikahan yang kita fahami sekarang, gadis itu dinikahkan dengan sebilah keris sebagai perwakilan bangsawan kota itu.

Ya hanya dengan sebilah keris, setelah itu dibawalah ia ke kota, ke rumah suami yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya, ibunya Cuma sering menghibur kala tangisnya bahwa suaminya itu sholeh, rajin shalat, ngaji, bahkan pernah naik haji.
Berhari-hari si gadis pantai dirumah suaminya (bendoro), kebanyakan di kamar, hidup serba aturan, keluar rumah pun itu sangat dibatasi, bahkan untuk dalam rumah pun dibatasi,coba bayangkan.

Suaminya, yang sering dipanggil bendoro, hanya sesekali datang itupun untuk melampiaskan nafsunya pada istri barunya, yang juga sekaligus istri ke empatnya. Setelah itu di pergi tak tahu rimbanya, gadis pantai itu juga bahkan tidak pernah bertanya pada bendoronya.

Cuma seorang budak tua yang selalu setia menemani gadis pantai, melakukan apa yang gadis pantai inginkan. Tetapi akhirnya di usir juga oleh si bendoro karena menuduh kemanakan-kemanakan bendoro mencuri uang milik gadis pantai di kamarnya.

Beranjak 16 tahun, berulah kemudian di berani mengutarakan maksudnya untuk menjenguk kedua orang tuanya. Kembali merasakan kehidupan pantai yang dua tahun tidak pernah rasakan, bertemu kedua orang tuanya, bebas tertawa-tawa dengan teman-temannya.
Tapi sayang, impiannya, khayalannya tidak seperti dulu lagi, dengan predikat istri seorang priyayi, ia memang disambut oleh sekampunya. Tapi bukan sebagai keluarga, tapi sebagai orang kota yang derajatnya tinggi datang bertamu.

Semua orang segan kepadanya dan hormat kepadanya, orang tuanya pun sudah enggan menyebutkan namanya, tinggal bendoro putri yang sering mereka ucapkan. Ketika si gadis pantai berada dalam rumahnya bapaknya pun tidak berani masuk. Jika dipanggil ia hanya sampai di jendela.

Ketika si gadis pantai turun untuk ikut membantu ibunya dan sekampungnya bekerja, semua orang melarangya.

Begitulah kehidupan si gadis pantai, kecewalah dia sedihlah dia, keluarganya pun tak menganggap dia seperti dulu lagi.

Gadis pantai mengandung, 9 bulan setelah mengandungnya ia melahirkan seorang bayi perempuan cantik. Suaminya (bendoro) Cuma sekali datang menengok di biliknya, itupun kecewa karena hanya perempuan.

Tiga bulan berlalu, ternyata tidak dia sangka ayahnya datang atas undangan bendoro (suaminya), ternyata undangan itu bukanlah sebuah undangan kebahagiaan, tapi undangan kesedihan.

Ayahnya datang untuk menjemput si gadis pantai sebagai anaknya, dan bukan sebagai istri bendoro seorang kaya yang sholeh. Setelah beberapa tahun melayani bendoro, dan melahirkan anaknya , selesailah tugasnya sebagai istri bendoro. Anaknya, walaupun mati-,matian ingin membawanya pulang tapi tetaplah yang kuat yang berkuasa. Bendoro juga tidak pernah mengakui perempuan-perempuan yang dia nikahi sebagai istrinya, karena yang berhak jadi istrinya hanyalah yang setingkat dengannya, kebangsawanannya, dan kekayaannya.

adi apa status si gadis pantai dan gadis-gadis yang pernah di nikahi, ternyata mereka hanyalah istri-istri percobaan dari bendoro yang sholeh itu, mungkin gundik, mungkin selir tergantung what u understand.
Thursday , march, 05, 2009

Leia Mais…